Pengantar
Dalam misi ini, diceritakan tujuh kisah perempuan yang memutuskan menikah muda. Apa yang terjadi dalam hidup mereka? Pilihan-pilihan apa yang mereka ambil?
Misimu adalah menebak sebanyak mungkin pilihan sesuai dengan kisah nyata setiap karakter.
Karakter
Pilihlah karakter dari Tujuh Perempuan di bawah ini yang menurut kamu memiliki perspektif paling berbeda dalam memandang pernikahan mereka.
Alika
Halo, nama saya Alika, perempuan berusia 28 tahun. Sehari-hari saya bekerja sebagai content editor. Saya tumbuh besar bersama film-film Disney dan Barbie. Saat remaja, saya meyakini pernikahan adalah tentang penantian perempuan atas pangeran yang menyelamatkan dirinya dari nestapa dan membuat hidupnya lebih bahagia.
Lanjut dengan karakter ini?
Putus
Saya tidak mengambil pilihan ini karena percaya dia akan menjadi orang yang lebih baik lagi nantinya.
Terima
Tentu saja saya menerima ajakannya. Saya sudah lama mendambakan pernikahan dengan seorang laki-laki yang saya cintai dan membangun keluarga bersamanya, apalagi kekasih saya berjanji akan menjadi individu yang lebih baik lagi. Namun siapa sangka, selama saya menikah, saya justru tidak menemukan kebahagiaan itu. Saya bahkan dipaksa hamil ketika saya sendiri belum siap menjadi seorang ibu.
Apakah saya akan menuruti kemauannya?
Tidak mau
Saya tidak mengambil pilihan ini karena saya mengidamkan pernikahan yang indah seperti cerita Disney.
Menuruti kemauannya
Saya mau tidak mau menuruti kemauannya, apalagi suami saya selalu menolak untuk memakai alat kontrasepsi. Dia pernah meminta saya memakai kontrasepsi, tetapi hal itu mengganggu metabolisme tubuh, sehingga saya tidak memasangnya. Suami saya bisa dibilang lumayan konservatif. Ia mengamini ajaran bahwa kodrat perempuan di rumah sehingga saya dipaksa menjadi seorang ibu rumah tangga purnawaktu. Suami saya juga tidak membolehkan saya melanjutkan pendidikan S2 padahal ini adalah mimpi yang saya ingin capai.
Menurut kamu, apa yang saya lakukan?
Tidak menuruti kemauannya
Saya tidak mengambil pilihan ini karena saya mengidamkan pernikahan yang indah seperti cerita Disney.
Masih bertahan
Setelah punya anak, saya berpikir situasi menjadi lebih baik, dia akan membantu saya saat saya benar-benar kewalahan karena belum siap jadi ibu. Saya pikir, kami bisa sejalan dalam membesarkan anak kami.
Kenyataannya...
Kami berbeda cara mendidik anak Kami sejalan dalam mendidik anak
Tidak menurutinya
Saya tidak mengambil pilihan ini karena sudah telanjur menikah dan mengikuti pandangan bahwa suami adalah kepala keluarga.
Kami berbeda dalam mendidik anak
Setelah punya anak, kami sering bertengkar karena perbedaan cara mendidiknya sebagai perempuan. Suami saya sering mendikte putri kami untuk bermain dengan mainan masak-masakan atau "mainan perempuan" lainnya dan melarangnya memaikan "mainan laki-laki". Ia juga tidak menghendaki putri kami mengenyam pendidikan tinggi.
Apakah saya harus memutuskan bercerai dengannya?
Kami sejalan dalam mendidik anak
Sayangnya hal ini tidak terjadi. Kami terus cekcok dalam mengarahkan bagaimana putri kami tumbuh dan mengambil pilihan ketika dewasa.
Bercerai
Saya pada akhirnya memutuskan cerai dengannya. Saya tidak pernah merasa bahagia dalam pernikahan ini.Tidak ada satu pun keraguan yang saya alami ketika mengajukan cerai. Saya pikir jika tidak cerai sekarang, putri kami nantinya akan mengalami trauma berkepanjangan tumbuh berada di dalam keluarga yang tidak harmonis dan ia akan memiliki pandangan yang buruk tentang pernikahan
Masih bertahan
Saya sudah tidak sanggup menghadapi perlakuannya. Saya tidak mengambil pilihan ini lagi.
