Cerita Pernikahan Dini

Pengantar

Pengantar

Dalam misi ini, diceritakan tujuh kisah perempuan yang memutuskan menikah muda. Apa yang terjadi dalam hidup mereka? Pilihan-pilihan apa yang mereka ambil?
Misimu adalah menebak sebanyak mungkin pilihan sesuai dengan kisah nyata setiap karakter.

Pilih Karakter

Karakter

Pilihlah karakter dari Tujuh Perempuan di bawah ini yang menurut kamu memiliki perspektif paling berbeda dalam memandang pernikahan mereka.

Speaker 1

Alika

28 tahun, Content Creator

Pilih Karakter
Speaker 2

Vaby

33 tahun, Ibu Rumah Tangga

Pilih Karakter
Speaker 3

Claudia

29 tahun, Manajer Bisnis

Pilih Karakter
Speaker 4

Kamila

24 tahun, Guru Bahasa Inggris & PAUD

Pilih Karakter
Speaker 5

Dinda

22 tahun, Penulis Lepas

Pilih Karakter
Speaker 6

Tasya

20 tahun, Mahasiswi

Pilih Karakter
Speaker 6

Vyoni

22 tahun, Ibu Rumah Tangga

Pilih Karakter



Artika

Alika

Halo, nama saya Alika, perempuan berusia 28 tahun. Sehari-hari saya bekerja sebagai content editor. Saya tumbuh besar bersama film-film Disney dan Barbie. Saat remaja, saya meyakini pernikahan adalah tentang penantian perempuan atas pangeran yang menyelamatkan dirinya dari nestapa dan membuat hidupnya lebih bahagia.


Lanjut dengan karakter ini?


Pilih Karakter lain Lanjutkan







Artika

Lanjut

Di usia 20 tahun, saya bertemu seseorang yang saya cintai. Kami memutuskan untuk berpacaran. Sejak berpacaran, pacar saya sering sekali cemburu. Bahkan, ia tidak suka ketika saya hanya mengobrol dengan teman laki-laki.


Apakah saya mempertahankan hubungan?


Ya Putus







Artika

Bertahan

Saya mempertahankan hubungan karena saya berharap laki-laki itu berubah. Ditambah lagi, ia bilang sikap cemburunya itu didasari oleh rasa cinta pada saya. Setelah 1,5 tahun pacaran, ia mengajak saya menikah.


Apakah saya menerima ajakan menikah?


Terima Tidak







Artika

Putus

Saya tidak mengambil pilihan ini karena percaya dia akan menjadi orang yang lebih baik lagi nantinya.



Opsi Sebelumnya Menu Awal







Artika

Terima

Tentu saja saya menerima ajakannya. Saya sudah lama mendambakan pernikahan dengan seorang laki-laki yang saya cintai dan membangun keluarga bersamanya, apalagi kekasih saya berjanji akan menjadi individu yang lebih baik lagi. Namun siapa sangka, selama saya menikah, saya justru tidak menemukan kebahagiaan itu. Saya bahkan dipaksa hamil ketika saya sendiri belum siap menjadi seorang ibu.


Apakah saya akan menuruti kemauannya?


Menuruti kemauannya Tidak menuruti kemauannya







Artika

Tidak mau

Saya tidak mengambil pilihan ini karena saya mengidamkan pernikahan yang indah seperti cerita Disney.



Opsi Sebelumnya Menu Awal







Artika

Menuruti kemauannya

Saya mau tidak mau menuruti kemauannya, apalagi suami saya selalu menolak untuk memakai alat kontrasepsi. Dia pernah meminta saya memakai kontrasepsi, tetapi hal itu mengganggu metabolisme tubuh, sehingga saya tidak memasangnya. Suami saya bisa dibilang lumayan konservatif. Ia mengamini ajaran bahwa kodrat perempuan di rumah sehingga saya dipaksa menjadi seorang ibu rumah tangga purnawaktu. Suami saya juga tidak membolehkan saya melanjutkan pendidikan S2 padahal ini adalah mimpi yang saya ingin capai.


Menurut kamu, apa yang saya lakukan?


Masih bertahan Tidak menurutinya







Artika

Tidak menuruti kemauannya

Saya tidak mengambil pilihan ini karena saya mengidamkan pernikahan yang indah seperti cerita Disney.



Opsi Sebelumnya Menu Awal







Artika

Masih bertahan

Setelah punya anak, saya berpikir situasi menjadi lebih baik, dia akan membantu saya saat saya benar-benar kewalahan karena belum siap jadi ibu. Saya pikir, kami bisa sejalan dalam membesarkan anak kami.


Kenyataannya...


Kami berbeda cara mendidik anak Kami sejalan dalam mendidik anak







Artika

Tidak menurutinya

Saya tidak mengambil pilihan ini karena sudah telanjur menikah dan mengikuti pandangan bahwa suami adalah kepala keluarga.



Opsi Sebelumnya Menu Awal







Artika

Kami berbeda dalam mendidik anak

Setelah punya anak, kami sering bertengkar karena perbedaan cara mendidiknya sebagai perempuan. Suami saya sering mendikte putri kami untuk bermain dengan mainan masak-masakan atau "mainan perempuan" lainnya dan melarangnya memaikan "mainan laki-laki". Ia juga tidak menghendaki putri kami mengenyam pendidikan tinggi.


Apakah saya harus memutuskan bercerai dengannya?


Ya Bercerai Saya akan bertahan







Artika

Kami sejalan dalam mendidik anak

Sayangnya hal ini tidak terjadi. Kami terus cekcok dalam mengarahkan bagaimana putri kami tumbuh dan mengambil pilihan ketika dewasa.



Opsi Sebelumnya Menu Awal







Artika

Bercerai

Saya pada akhirnya memutuskan cerai dengannya. Saya tidak pernah merasa bahagia dalam pernikahan ini.Tidak ada satu pun keraguan yang saya alami ketika mengajukan cerai. Saya pikir jika tidak cerai sekarang, putri kami nantinya akan mengalami trauma berkepanjangan tumbuh berada di dalam keluarga yang tidak harmonis dan ia akan memiliki pandangan yang buruk tentang pernikahan



Menu Awal







Artika

Masih bertahan

Saya sudah tidak sanggup menghadapi perlakuannya. Saya tidak mengambil pilihan ini lagi.



Opsi Sebelumnya Menu Awal